Dua organisasi massa (ormas) Islam,
Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, bersepakat untuk menyinergikan
visi ke-Islam-an masing-masing. NU mempopulerkan visinya melalui jargon
Islam Nusantara, sedangkan Muhammadiyah dengan Islam berkemajuan.
Menurut Ketua Umum NU, Said Aqil Siroj, Islam Nusantara ala NU
dengan Islam berkemajuan ala Muhammadiyah adalah modal besar bagi masa
depan Indonesia yang lebih baik.
Said Aqil mula-mula menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukan mazhab
atau aliran baru dalam Islam. Islam Nusantara sesungguhnya hanya
penyederhanaan dari tipologi Islam Indonesia hasil perpaduan antara
Islam dengan tradisi dan kebudayaan Nusantara.
Islam Nusantara, kata Said, merupakan Islam yang ramah, toleran,
berakhlakul karimah dan berkarakter kebangsaan serta berkeadilan sosial.
Karakter-karakter itu, menurutnya, tak dimiliki Islam di negara-negara
lain, terutama di kawasan Timur Tengah.
Sejauh ini, Said menambahkan, negara-negara Islam di kawasan itu
belum mampu menyatupadukan atau menyelaraskan agama Islam dengan
nasionalisme. Akibatnya pula, banyak negara muslim di Timur Tengah yang
mengalami konflik berkepanjangan.
“Islam Nusantara jauh berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Mereka
belum selesai memadukan Islam dengan nasionalisme,” kata Said dalam
perbincangan dengan tvOne pada Jumat malam, 7 Agustus 2015.
Said mengingatkan komitmen NU pada kebangsaan Indonesia dengan
kisah KH Hasyim Asy’ari, ulama yang mendirikan organisasi itu pada 1926.
Hasyim Asy’ari dahulu tak pernah berhenti berdoa agar Indonesia segera
merdeka dari penjajahan.
“Itu artinya NU menyatukan semangat agama dan semangat kebangsaan (nasionalisme)," kata Said.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir,
menjelaskan tentang visi Islam berkemajuan. Menurutnya, visi itu ialah
cita-cita menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang mampu
mengejar berbagai ketertinggalan, misalnya ketertinggalan pendidikan,
ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain.
Dia menekankan secara khusus sistem politik dan ekonomi Indonesia
yang cenderung bercorak liberal. Sistem itu, katanya, cenderung
menjauhkan Indonesia dari cita-cita mewujudkan keadilan sosial. Ditambah
praktik korupsi yang kian marak.
“Islam berkemajuan bisa bersinergi dengan Islam Nusantara. Kita (NU
dan Muhammadiyah) bisa mendesain itu. Itulah transfermasi Islam
Indonesia untuk kemajuan Indonesia,” katanya.
Haedar mengingatkan tanggung jawab besar pemerintahan Presiden Joko
Widodo, terutama dalam pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di saat
perkonomian sedang lesu seperti sekarang. Di lain sisi, pemerintahan
Joko Widodo juga harus fokus pada penegakan hukum, terutama
pemberantasan korupsi.
“Kalau pemerintah bisa mengambil fokus pada hal-hal itu, saya
optimistis dua-tiga tahun ke depan kita (Indonesia) akan lebih baik
lagi. Jangan sampai kehilangan momentum,” katanya. (one)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar