burung twitter

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiO0CbMX1ckEyrD5-nNVVikMJUj8PqTvla07VrKn6vgqXApnSbP2Nynmp6k21AWW5pDNiov1VpuxqNUobEehJg96HnVkfaJdkHdDB5oJsEU_JCj4yyxqTZZs9EXL782rT9fSg8-08LfB6o/s1600/Blue+bird.png

Rabu, 14 Oktober 2015

PUISI SYAHDU

SALAHKAH AKU MENCINTAINYA?

Setiap kata...
Terlintas dipikiranku..
Indah rasa membayangkannya...

Taukah anda?
Setiap kenangan itu ..
Terus terbayang!

Aku ingat segalanya..
Disaat anda memanggilku dengan cinta
Disaat anda menatap mataku dengan kasih
Disaat anda menyentuh tanganku dengan lembut

Segalanya terus membayangi...

Aku terus tertawa
Kau mengisi hariku dengan cinta..
Mengisi dengan segala cinta!!

Aku merasa..
Seakan Cinta ini Abadi!!
Aku merasa..
Seakan Cinta ini Sejati!!

Padahal...
Aku tau bahwa kenyataan tak seperti itu..
Aku tau!!!

Sekarang aku sadar...
Saat bersamaku..
Matamu tak sepenuhnya menatapku..
Hatimu tak seluruhnya bersamaku..
Senyummu tak seutuhnya untukku..


Saat hari itu tiba...
Dimana kau katakan Kau Suka Dirinya

Seakan aku tak berdaya!!!
Hatiku entah hilang kemana!!
Aku terluka!!!


Aku sadar, aku memang bukan siapa-siapa!!



Tapi salahkah jika Aku mencintainya???
Salahkah??
Apa cintaku ini tak berguna??
Apa cintaku takberguna??

Taukah kau!!
Aku Terluka!!!!!!!

Mulutku diam seribu bahasa
Seakan hanya air mata yang bisa mengungkapkannya!!

Tapi, aku memang bukan siapa siapa, jadi cinta ku tak berarti apa apa

Dengan sakit ini...
Bukan kau yang salah !!
Bukan Tuhan yang salah !!

Tapi cintaku yang salah!!
Aku terlalu bodoh!!
mengharapkan, yang tak mungkin ku dapatkan

dan, Ini akhirnya..
Cinta ku Yang tak berarti apa - apa

PUISI SYAHDU

RINTIHAN HATI

Biar semua ini aku rasakan dulu
Sampai saatnya engkau mengerti
Akan sebuah arti kesabaran
Atas kedukaan slama ini
Bukan memohon ku mau
Aku hanya inginkan perdamaian hati
Jangan buat aku mengeluh akan rasa
Biarkan aku bahagia dengan cinta
Kau tau aku tak kuasa
Tapi kau buat ku harus selalu cerita duka
Aku lelah jikalau aku ingatnya
Aku akan pergi dan terbang bersama rasa ini
Aku tak akan pula ingin kembali jika aku sudah lelah
Tapi aku akan meningalkan jejak jejak cinta yang kau abaikan
Biarkan aku melukiskan kesedihanku dengan rangkaian aksara yang kupunya untukmu
Walau tak seindah syair sang legenda tapi ini adanya

Rabu, 07 Oktober 2015

ISLAM NUSANTARA

Dua organisasi massa (ormas) Islam, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, bersepakat untuk menyinergikan visi ke-Islam-an masing-masing. NU mempopulerkan visinya melalui jargon Islam Nusantara, sedangkan Muhammadiyah dengan Islam berkemajuan.

Menurut Ketua Umum NU, Said Aqil Siroj, Islam Nusantara ala NU dengan Islam berkemajuan ala Muhammadiyah adalah modal besar bagi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Said Aqil mula-mula menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukan mazhab atau aliran baru dalam Islam. Islam Nusantara sesungguhnya hanya penyederhanaan dari tipologi Islam Indonesia hasil perpaduan antara Islam dengan tradisi dan kebudayaan Nusantara.

Islam Nusantara, kata Said, merupakan Islam yang ramah, toleran, berakhlakul karimah dan berkarakter kebangsaan serta berkeadilan sosial. Karakter-karakter itu, menurutnya, tak dimiliki Islam di negara-negara lain, terutama di kawasan Timur Tengah.

Sejauh ini, Said menambahkan, negara-negara Islam di kawasan itu belum mampu menyatupadukan atau menyelaraskan agama Islam dengan nasionalisme. Akibatnya pula, banyak negara muslim di Timur Tengah yang mengalami konflik berkepanjangan.

“Islam Nusantara jauh berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Mereka belum selesai memadukan Islam dengan nasionalisme,” kata Said dalam perbincangan dengan tvOne pada Jumat malam, 7 Agustus 2015.

Said mengingatkan komitmen NU pada kebangsaan Indonesia dengan kisah KH Hasyim Asy’ari, ulama yang mendirikan organisasi itu pada 1926. Hasyim Asy’ari dahulu tak pernah berhenti berdoa agar Indonesia segera merdeka dari penjajahan.

“Itu artinya NU menyatukan semangat agama dan semangat kebangsaan (nasionalisme)," kata Said.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan tentang visi Islam berkemajuan. Menurutnya, visi itu ialah cita-cita menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang mampu mengejar berbagai ketertinggalan, misalnya ketertinggalan pendidikan, ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain.

Dia menekankan secara khusus sistem politik dan ekonomi Indonesia yang cenderung bercorak liberal. Sistem itu, katanya, cenderung menjauhkan Indonesia dari cita-cita mewujudkan keadilan sosial. Ditambah praktik korupsi yang kian marak.

“Islam berkemajuan bisa bersinergi dengan Islam Nusantara. Kita (NU dan Muhammadiyah) bisa mendesain itu. Itulah transfermasi Islam Indonesia untuk kemajuan Indonesia,” katanya.

Haedar mengingatkan tanggung jawab besar pemerintahan Presiden Joko Widodo, terutama dalam pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di saat perkonomian sedang lesu seperti sekarang. Di lain sisi, pemerintahan Joko Widodo juga harus fokus pada penegakan hukum, terutama pemberantasan korupsi.

“Kalau pemerintah bisa mengambil fokus pada hal-hal itu, saya optimistis dua-tiga tahun ke depan kita (Indonesia) akan lebih baik lagi. Jangan sampai kehilangan momentum,” katanya. (one)

Wibiya Widget